Kita
mengetahui tanggal, bulan dan tahun karena ada kalender. Dari mana sih kalender
itu? Kalender ada sejak zaman Yunani dan Romawi kuno. Namun karena ada pengaruh
suatu bangsa menjajah bangsa lainnnya, atau pengaruh penyebaran agama di masa
lalu, maka kini tinggal ada tiga sistem penanggalan yang digunakan di
masyarakat dunia, yaitu sistem kalender internasional yang berasal dari
kebudayaan Yunani dan Romawi, kalender Tionghoa, yang disebut penanggalan Imlek, dan Al Manak atau kalender asal Arab (biasa juga disebut Al Manak
Islam) yang biasa digunakan di negara-negara Timur Tengah.Karena di masa lalu Indonesia dijajah Belanda cukup lama, maka negara kita menggunakan kalender internasional yang berasal dari Yunani dan Romawi itu. Bangsa Belanda telah berabad-abad menggunakan kalender pengaruh Yunani dan Romawi.
Para
ahli falak dari Yunani dan Romawi membuat kalender berdasarkan perhitungan
peredaran bulan. Sedangkan 1 tahun dalam kalender bulan itu, tidaklah sama.
Mereka lalu menghitung perhitungan bumi mengelilingi matahari. Ada lagi
perhitungan 12 bulan yang mengikuti perhitungan bulan, dan berbeda dengan
perhitungan titik tolak pada matahari.
Sedangkan
para ahli ilmu falak di Tiongkok dan Arab, memiliki persamaan sistem kalender.
Perhitungan 1 tahun terdiri dari 354 hari. Beda dengan kalender Masehi atau
kalender internasional sekarang, yang asal muasalnya dari Yunani dan Romawi, 1
tahun terdiri dari 365 hari. Malah ada perhitungan 4 tahun sekali yang terdiri dari
366 hari, biasa disebut “Tahun Kabisat”.
Ahli
falak Yunani dan Romawi menghitung, bumi mengelilingi matahari selama 1 tahun
adalah 365,242199 hari. Tapi karena pecahan sebesar 0,242199 hari menyebabkan
kesukaran menghitung penanggalan. Akhirnya dicapai kesepakatan 1 tahun
dibulatkan menjadi 365 hari saja. Pada masa itu, ahli-ahli falak menghitung 1
tahun hanya terdiri dari 10 bulan. Karena itu teman-teman jangan heran kalau
kalender tahun baru masa itu dimulai dari bulan Maret.
Namun ketika kejayaan negeri Yunani meredup,
Romawi mulai berjaya. Julius Caesar, sang penguasa Romawi memerintahkan para
ahli falaknya untuk menyempurnakan kalender agar bisa digunakan bersama oleh
bangsa Romawi dan bangsa negara jajahannya. Sosigenes, seorang ahli falak, mengubah
awal tahun baru, yang semula Maret menjadi mulai 1 Januari. Yang lain tetap,
yaitu 1 tahun adalah 365 hari dan tahun kabisat setiap 4 tahun sekali adalah
366 hari. Ini yang dinamakan “Kalender Julian”. “Julian” itu diambil dari nama
sang penguasa, “Julius”. Tahun 1582, sesudah kejayaan Romawi usai, seorang Paus
bernama Gregorius XI menyempurnakan kalender “Julian”, dan mengganti namanya
menjadi kalender “Gregorian”. Sistemnya tak banyak berubah dari kalender
Julian, hanya saja 1 tahun berubah menjadi 12 bulan. Kalender Gregorian
digunakan secara internasional sampai dewasa ini.
Namun
ada keganjilan pada arti nama-nama bulannya, karena pengaruh kalender lama yang
dimulai bulan Maret itu dan 1 tahun dihitung 10 bulan. Bulan Januari diambil
dari nama Dewa Januar atau Dewa Peperangan. Februari dari Februarius, artinya
Bulan Bertobat. Maret diambil dari nama Dewa Mars (pada kelender “Julian” Dewa
Mars dianggap dewa pertama untuk memulai tahun baru).
Bulan
April, diambil dari nama Dewi Aprilis. Mei dari Dewi Maya. Juni dari Dewi Juno.
Bulan Juli dari nama Kaisar Julius. Bulan agustus dari nama Kaisar Agustus.
Lalu
menginjak bulan September, terjadi keganjilan yatu nama bulan ini berasal dari Septem artinya bulan ke-7. Oktober dari
kata Okto, artinya bulan ke-8. November
dari Novem, artinya bulan ke-9 dan
Desember dari Decem artinya bulan
ke-10. Jadi, seharusnya nama-nama bulan
mulai September sampai Desember, tidak cocok lagi dipakai sekarang
karena artinya lain. Tetapi apa boleh buat, PBB telah mengesahkan penggunaan
Kalender “Gregorian”, termasuk Indonesia mulai 20 April 1956.
Sumber : kliping artikel
pribadi (sumber tidak jelas) :)

0 komentar:
Posting Komentar