Social Icons

.

Pages

Selasa, 02 Oktober 2012

Dulu Kalender Diawali dari Bulan Maret


Kita mengetahui tanggal, bulan dan tahun karena ada kalender. Dari mana sih kalender itu? Kalender ada sejak zaman Yunani dan Romawi kuno. Namun karena ada pengaruh suatu bangsa menjajah bangsa lainnnya, atau pengaruh penyebaran agama di masa lalu, maka kini tinggal ada tiga sistem penanggalan yang digunakan di masyarakat dunia, yaitu sistem kalender internasional yang berasal dari kebudayaan Yunani dan Romawi, kalender Tionghoa, yang disebut penanggalan Imlek, dan Al Manak atau kalender asal Arab (biasa juga disebut Al Manak Islam) yang biasa digunakan di negara-negara Timur Tengah.


Karena di masa lalu Indonesia dijajah Belanda cukup lama, maka negara kita menggunakan kalender internasional yang berasal dari Yunani dan Romawi itu. Bangsa Belanda telah berabad-abad menggunakan kalender pengaruh Yunani dan Romawi.
Para ahli falak dari Yunani dan Romawi membuat kalender berdasarkan perhitungan peredaran bulan. Sedangkan 1 tahun dalam kalender bulan itu, tidaklah sama. Mereka lalu menghitung perhitungan bumi mengelilingi matahari. Ada lagi perhitungan 12 bulan yang mengikuti perhitungan bulan, dan berbeda dengan perhitungan titik tolak pada matahari.
Sedangkan para ahli ilmu falak di Tiongkok dan Arab, memiliki persamaan sistem kalender. Perhitungan 1 tahun terdiri dari 354 hari. Beda dengan kalender Masehi atau kalender internasional sekarang, yang asal muasalnya dari Yunani dan Romawi, 1 tahun terdiri dari 365 hari. Malah ada perhitungan 4 tahun sekali yang terdiri dari 366 hari, biasa disebut “Tahun Kabisat”.
Ahli falak Yunani dan Romawi menghitung, bumi mengelilingi matahari selama 1 tahun adalah 365,242199 hari. Tapi karena pecahan sebesar 0,242199 hari menyebabkan kesukaran menghitung penanggalan. Akhirnya dicapai kesepakatan 1 tahun dibulatkan menjadi 365 hari saja. Pada masa itu, ahli-ahli falak menghitung 1 tahun hanya terdiri dari 10 bulan. Karena itu teman-teman jangan heran kalau kalender tahun baru masa itu dimulai dari bulan Maret.
 Namun ketika kejayaan negeri Yunani meredup, Romawi mulai berjaya. Julius Caesar, sang penguasa Romawi memerintahkan para ahli falaknya untuk menyempurnakan kalender agar bisa digunakan bersama oleh bangsa Romawi dan bangsa negara jajahannya. Sosigenes, seorang ahli falak, mengubah awal tahun baru, yang semula Maret menjadi mulai 1 Januari. Yang lain tetap, yaitu 1 tahun adalah 365 hari dan tahun kabisat setiap 4 tahun sekali adalah 366 hari. Ini yang dinamakan “Kalender Julian”. “Julian” itu diambil dari nama sang penguasa, “Julius”. Tahun 1582, sesudah kejayaan Romawi usai, seorang Paus bernama Gregorius XI menyempurnakan kalender “Julian”, dan mengganti namanya menjadi kalender “Gregorian”. Sistemnya tak banyak berubah dari kalender Julian, hanya saja 1 tahun berubah menjadi 12 bulan. Kalender Gregorian digunakan secara internasional sampai dewasa ini.
Namun ada keganjilan pada arti nama-nama bulannya, karena pengaruh kalender lama yang dimulai bulan Maret itu dan 1 tahun dihitung 10 bulan. Bulan Januari diambil dari nama Dewa Januar atau Dewa Peperangan. Februari dari Februarius, artinya Bulan Bertobat. Maret diambil dari nama Dewa Mars (pada kelender “Julian” Dewa Mars dianggap dewa pertama untuk memulai tahun baru).
Bulan April, diambil dari nama Dewi Aprilis. Mei dari Dewi Maya. Juni dari Dewi Juno. Bulan Juli dari nama Kaisar Julius. Bulan agustus dari nama Kaisar Agustus.
Lalu menginjak bulan September, terjadi keganjilan yatu nama bulan ini berasal dari Septem artinya bulan ke-7. Oktober dari kata Okto, artinya bulan ke-8. November dari Novem, artinya bulan ke-9 dan Desember dari Decem artinya bulan ke-10. Jadi, seharusnya nama-nama bulan  mulai September sampai Desember, tidak cocok lagi dipakai sekarang karena artinya lain. Tetapi apa boleh buat, PBB telah mengesahkan penggunaan Kalender “Gregorian”, termasuk Indonesia mulai 20 April 1956.
Sumber : kliping artikel pribadi (sumber tidak jelas) :)

0 komentar:

Posting Komentar