Ia terlahap fatamorgana dunia yang fana.
Tak sadari predator daratan telah menunggu
untuk memangsanya. Para kompetitor telah lama menunggu dan mencoba untuk
merebut sayapnya. Dia memang tak pernah terbang serendah ini. Walau ia tahu pun,
ia tak mencoba berusaha untuk mencapai titik tertinggi lagi.
Tak pernah memikirkan kembali jalan yang telah
ia lalui. Tak pikirkan sesulit apa ketika sayap itu terbentuk.
Kini, ketika ia telah mencapai titik paling
rendah, dimana sayapnya tak lagi utuh..
Titik tinggi itu telah direbut oleh makhluk
bersayap lainnya. Kini, ia baru sadari luka yang ia buat sendiri. Kupu-kupu bodoh
itu baru sadar sayapnya telah hancur digerogoti waktu dan gesekan udara. Sayapnya
telah dipenuhi goresan yang tak disangka. Sayapnya remuk dibebani debu yang tak
pernah ia bersihkan. Tertutupi molekular yang tak pernah ia sadari.
Apa yang harus ia
lakukan??
Kupu-kupu bodoh itu baru terbangun dari fatamorgana
yang ia anggap indah.
Baru terbangun dari angan-angan yang salah. Ia lupa
mimpinya. Ia lupa taman indah yang ia impikan. Ia lupa segalanya.
Kupu-kupu bodoh itu tak
tahu bagaimana membuat sayapnya utuh lagi. Karena sekarang tujuannya telah
semakin jauh. Impiannya telah kabur tertutupi kabut di awan yang tinggi. Ia tak
tahu caranya lagi.
Apa yang harus ia lakukan?
Hanya satu yang pasti. Ia
tahu yang paling pasti. Cuma satu.
Cuma kepada-Nya, ia akan menggantungkan
hidupnya, menggantungkan harapannya. Kepada Allah swt yang telah mengizinkannya
untuk berubah, yang telah mengizinkannya untuk merasakan keidahan, yang telah
memberikannya petunjuk untuk tetap hidup dan memberinya kekuatan untuk mencari
jalan ke bintang walau tanpa sayap.....
*sebuah cerita dari seekor kupu-kupu yang
berada dalam dunia tanpa nama. Yang bercerita dengan isyarat yang dituangkan
dalam bentuk catatan.
by: Novia Santriwati
***


0 komentar:
Posting Komentar